Sobat Flexy, sebagai pemilik usaha, pernahkah kamu menemukan kemasan produk yang tidak mencantumkan tanggal kedaluwarsa secara jelas, hanya barcode yang tercetak di sana? Atau kamu masih bingung cara cek expired date dari barcode? Padahal, masalah seperti ini menyangkut kepercayaan konsumen, keamanan produk, hingga kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Lalu apakah expired date bisa dicek langsung dari barcode yang tercetak pada kemasan? Artikel ini akan membahas secara tuntas cara cek expired date dari barcode, format pencantuman tanggal yang berlaku, hingga peran penting kemasan dalam menyampaikan informasi tersebut secara akurat kepada konsumen.
Daftar Isi
Apa Itu Barcode dan Kaitannya dengan Expired Date?

Sobat Flexy, secara sederhana barcode adalah representasi visual data yang mesin dapat baca secara otomatis, baik dalam bentuk kombinasi garis vertikal (1D) maupun pola titik dan kotak seperti QR code (2D). Dalam kemasan produk, produsen umumnya menggunakan barcode untuk menyimpan informasi seperti kode produk, harga, produsen, hingga nomor batch.
Apakah Barcode Menyimpan Informasi Expired Date?
Faktanya, tidak semua barcode menyimpan informasi expired date secara langsung. Pasalnya, hal ini bergantung pada jenis dan standar barcode yang produsen gunakan:
- Barcode 1D (EAN-13, UPC-A): umumnya hanya menyimpan kode identifikasi produk (GTIN) dan tidak memuat informasi expired date.
- Barcode GS1-128 / ITF-14: produsen menggunakan jenis ini untuk kemasan karton (kemasan sekunder) dan distribusi B2B. Barcode ini dapat memuat Application Identifier (AI) untuk menyimpan tanggal kedaluwarsa (AI 17) dan nomor batch (AI 10).
- QR Code / Data Matrix: mampu menyimpan lebih banyak data, termasuk expired date, URL produk, hingga informasi nutrisi.
Jadi, jika kamu ingin cek expired date dari barcode, pastikan terlebih dahulu jenis barcode apa yang Sobat Flexy gunakan di kemasan produk.
Perbedaan Barcode, Kode Produksi, dan Tanggal Kedaluwarsa
Banyak orang sering mencampuradukkan ketiga elemen ini, padahal masing-masing memiliki fungsi yang berbeda:
- Barcode: berfungsi sebagai kode unik untuk mengidentifikasi produk dalam sistem ritel dan distribusi.
- Kode Produksi (Production Date/Batch Code): menunjukkan kapan dan di lini produksi mana produsen membuat produk tersebut, biasanya berupa kombinasi huruf dan angka yang tercetak terpisah dari barcode.
- Tanggal Kedaluwarsa (Expired Date): menandai batas waktu produk aman untuk dikonsumsi atau digunakan. Produsen wajib mencantumkannya secara eksplisit pada kemasan sesuai regulasi BPOM.
Cara Cek Expired Date dari Barcode

Berikut tiga metode yang bisa kamu gunakan untuk mengecek expired date dari barcode pada kemasan produk:
Metode 1: Scan Menggunakan Aplikasi
Pertama, cara paling mudah adalah menggunakan aplikasi barcode scanner di smartphone. Beberapa aplikasi yang dapat kamu gunakan antara lain:
- Google Lens
- Barcode Scanner (ZXing)
- Scan App atau aplikasi inventaris produk
Namun, kamu perlu memahami bahwa aplikasi ini hanya dapat membaca data yang memang tersimpan di dalam barcode. Jika produsen hanya menggunakan barcode EAN-13 standar, tanggal kedaluwarsa tidak akan muncul dari hasil scan.
Metode 2: Membaca Digit pada Barcode Format GS1
Selanjutnya, pada kemasan yang menggunakan standar GS1-128, produsen mengkodekan expired date menggunakan Application Identifier (AI). Berikut format standar yang perlu kamu ketahui:
- AI (17): Best Before Date, dalam format YYMMDD. Contohnya 260831 menunjukkan tanggal 31 Agustus 2026.
- AI (10): Lot Number atau nomor batch produksi.
Perlu dicatat, industri umumnya menerapkan format GS1-128 pada kemasan distribusi seperti karton, bukan selalu pada kemasan ritel untuk konsumen akhir.
Metode 3: Menggunakan Sistem Internal Produsen (ERP/WMS)
Terakhir, bagi pelaku usaha skala menengah hingga besar, cara paling akurat adalah mengintegrasikan barcode ke sistem manajemen inventaris (ERP atau WMS).
Setiap kali sistem men-scan barcode, data akan terhubung ke database produk sehingga pengguna dapat mengakses tanggal kedaluwarsa, nomor batch, dan informasi lainnya secara real-time.
Bahkan, pendekatan ini juga membantu penerapan manajemen stok berbasis FEFO (First Expired, First Out), sebuah praktik penting dalam industri F&B dan farmasi.
Format Penulisan Expired Date pada Kemasan Produk

Sobat Flexy, dalam hal ini BPOM mengatur pencantuman expired date melalui Peraturan BPOM tentang Label Pangan Olahan. Berikut format expired date yang umum produsen gunakan pada kemasan produk:
- DD/MM/YYYY: format paling umum untuk produk pangan. Contohnya, 15/08/2026.
- MM/YYYY: produsen menggunakan format ini untuk produk dengan masa simpan panjang. Contohnya, 08/2026.
- Best Before vs Use By: “Best Before” berarti konsumen masih dapat mengonsumsi produk setelah tanggal tersebut meski kualitasnya menurun, sedangkan “Use By” atau “Exp” menandai batas aman konsumsi yang konsumen tidak boleh lewati.
Oleh karena itu, pastikan format yang kamu gunakan pada kemasan konsisten dan memudahkan konsumen maupun sistem scan di ritel modern untuk membacanya.
Kesalahan Umum Pelaku Usaha dalam Pencantuman Expired Date

Masalah expired date pada kemasan sering kali bukan berasal dari kesalahan produksi, melainkan karena faktor teknis pada kemasan itu sendiri. Berikut beberapa kesalahan yang perlu kamu hindari:
- Posisi cetak yang kurang tepat: produsen mencetak expired date di area lipatan atau sambungan kemasan sehingga konsumen kesulitan membacanya.
- Tinta luntur atau tidak tahan kondisi penyimpanan: kemasan yang terpapar kelembapan tinggi, sinar UV, atau suhu ekstrem rentan membuat tinta luntur. Selain itu, material kemasan yang tidak kompatibel dengan jenis tinta (inkjet/laser) akan mempercepat kerusakan tulisan.
- Format tanggal membingungkan: penulisan seperti “260831” tanpa keterangan format membuat konsumen bingung apakah itu tanggal produksi atau kedaluwarsa.
- Ukuran font terlalu kecil: BPOM mensyaratkan keterbacaan informasi wajib pada label, font yang terlalu kecil tidak hanya menyulitkan konsumen, tetapi juga berpotensi melanggar regulasi yang berlaku.
Peran Kemasan dalam Menjaga Akurasi Informasi Expired Date

Sobat Flexy, informasi expired date yang akurat tidak hanya bergantung pada sistem pencetakan, melainkan juga pada kualitas material kemasan itu sendiri. Bahkan, ada beberapa faktor kemasan yang secara langsung memengaruhi keterbacaan label:
- Kompatibilitas permukaan dengan metode cetak: produsen yang merancang permukaan kemasan fleksibel khusus untuk inkjet atau thermal transfer printing akan menghasilkan cetakan yang tajam dan tahan lama.
- Ketahanan material terhadap kondisi penyimpanan: kemasan dengan barrier layer yang tepat akan mencegah tinta luntur akibat kelembapan tinggi atau suhu rendah dalam cold storage.
- Area cetak yang konsisten: desain kemasan yang baik mengalokasikan area khusus untuk informasi wajib seperti expired date agar proses filling atau sealing tidak memotong area tersebut.
Oleh karena itu, Flexypack menghadirkan solusi kemasan fleksibel yang para ahli kami rancang dengan mempertimbangkan keterbacaan label dan kebutuhan cetak informasi produk. Bersama Flexypack, kamu bisa cetak kemasan dengan material dan struktur yang tepat sesuai kebutuhan produkmu. Dengan begitu, tanggal kedaluwarsa dan seluruh informasi penting lainnya tetap terbaca jelas, dari lini produksi hingga ke tangan konsumen.
Kesimpulan
Pada akhirnya, cara cek expired date dari barcode bergantung pada jenis barcode yang produsen gunakan pada kemasan produk. Sebagai ringkasan, barcode EAN-13 tidak menyimpan data expired date, sementara GS1-128 dan QR Code dapat memuatnya jika produsen mengonfigurasinya dengan benar.
Namun, bagi pelaku usaha, hal terpenting bukan hanya memahami cara membaca barcode, tetapi juga memastikan expired date tercantum dengan benar, mudah dibaca konsumen, dan tahan terhadap kondisi distribusi maupun penyimpanan. Inilah mengapa kualitas kemasan memainkan peran yang sangat krusial dalam menjaga akurasi informasi produk hingga sampai ke tangan konsumen.

