Sobat Flexy, bagaimana dengan logo Halal sebelumnya yang selama ini sudah digunakan? Menurut Kepala BPJH Muhammada Aqil Irham dilansir dari laman halal.go.id menerangkan bahwa, "Pelaku usaha yang memiliki produk yang telah bersertifikat halal sebelum beroperasinya BPJPH serta masih memiliki stok kemasan dengan label halal dan nomor ketetapan halal MUI, diperkenankan untuk menghabiskan stok kemasan terlebih dahulu," jelas Aqil Irham di Jakarta, Minggu (13/3/2022).
"Setelah itu, mereka harus segera menyesuaikan pencantuman label halal pada produknya sesuai dengan ketentuan dalam Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022," sambungnya.
Seperti Apa Logo Halal Indonesia Resmi Saat Ini?

Sobat Flexy, sejak 1 Maret 2022 pengusaha di seluruh Indonesia wajib menggunakan logo halal yang BPJPH keluarkan. Dilansir dari BPJPH, langkah ini berpijak pada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Artinya, regulasi ini membuat negara mengambil peran sentral untuk memastikan produk yang beredar dipasaran memiliki kepastian hukum yang kuat.
Perubahan logo baru Halal Indonesia juga mengadaptasi dari nilai-nilai budaya Indonesia. Rupanya, logo ini terdiri dari 2 objek, yaitu Gunungan dan Motif Surjan. Gunungan sendiri mempresentasikan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, maka hendaknya sebagai manusia harus semakin mengerucut. Sebaliknya, motif surjan menggambarkan kesejajaran elemen satu dengan lainnya yang artinya sebagai pembeda atau pemberi batas yang jelas. Memiliki warna yang berbeda, logo terbaru memiliki warna ungu yang menggambarkan makna keimanan, kesatuan lahir dan batin serta imajinasi.
Perbedaan Logo Halal MUI Lama dan Logo Halal Indonesia

Sobat Flexy, kamu dapat membandingkan logo halal Indonesia terbaru dan lama berdasarkan bentuk, warna, identitas lembaga, serta ketentuan penggunaannya. Berikut tabel yang merangkum perbedaannya:
| Aspek | Logo Lama MUI | Logo Terbaru BPJHP |
| Bentuk | Lingkaran | Gunungan atau Kubah |
| Warna | Hijau | Ungu |
| Tulisan | Majelis Ulama Indonesia, Arab, dan Halal | Halal Indonesia |
| Identitas | MUI | Halal Indonesia sudah ditetapkan oleh BPJPH |
| Penggunaan | Sistem pelabelan sebelumnya dan masa transisi | Label resmi nasional sejak 2022 |
Apa Perbedaan Logo dan Label Halal?

Sobat Flexy, logo dan label halal itu ternyata memiliki perbedaan lho. Meskipun keduanya memiliki bentuk yang sama, akan tetapi maknanya berbeda.
a. Logo Halal
Merupakan penanda atau simbol resmi tentang kehalalan yang modern dan identitas visual yang mudah dikenali. Pastinya, terdiri atas dua objek yaitu bentuk gunungan atau kubah dan motif surjan.
b. Label Halal
Sedangkan label halal Indonesia, merupakan sebuah rangkaian yang terdiri atas Logo Halal Indonesia. Selain itu, cantumkan nomor Sertifikat Halal bersama label halal sebagai satu kesatuan. Dengan demikian, label halal menandakan bahwa produk telah memenuhi persyaratan sertifikasi halal.
Pastikan produk memiliki label halal resmi untuk menunjukkan status kehalalannya, bukan sekadar menampilkan simbol logo halal. Oleh karena itu, label halal yang baru, boleh dipasang setelah produk sudah lolos dan mendapat sertifikasi halal resmi oleh BPJPH.
Cara Mendapatkan Logo dan Label Halal Indonesia
Sobat Flexy, Keputusan Kepala BPJPH Nomor 145 Tahun 2022 mengatur penggunaan Logo dan Label Halal Indonesia. Melalui peraturan ini, BPJPH menetapkan desain, warna, penempatan logo, serta masa transisi bagi pelaku usaha.
Oleh karena itu, untuk menambahkan logo yang baru pada kemasan atau desain kemasan yang sudah ada. Kamu juga dapat login pada website resmi BPJPH SIHALAL. Bagi pelaku usaha wajib menggunakan logo dan label resmi yang sudah dikeluarkan oleh BPJPH tanpa melakukan perubahan dalam bentuk apapun.
Cara Mendapatkan Sertifikasi Halal dari BPJPH Kemenag

Berikut alur proses sertifikasi Halal Indonesia terbaru melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag. Pendaftaran sertifikasi Halal ini bisa dilakukan melalui halaman Sihalal.
1. Melakukan Permohonan Sertifikasi Halal
Untuk mengajukan permohonan sertifikat Halal Indonesia, berikut dokumen pelengkap yang di siapkan oleh Pelaku usaha:

a. Data Pelaku Usaha
- Selain itu, pelaku usaha dapat menunjukkan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai identitas usaha. Jika belum memiliki NIB, pelaku usaha bisa menggunakan dokumen izin lain, seperti NPWP, SIUP, IUMK, IUI, atau NKV.
- Penyelia Halal melampirkan salinan keputusan penetapan penyelia halal.
b. Mencocokkan nama dan jenis produk dengan data produk yang akan maju untuk sertifikasi halal.
Oleh karena itu, pelaku usaha perlu mencantumkan nama dan jenis produk sesuai dengan data yang diajukan dalam sertifikasi halal.
c. Daftar Produk dan Bahan Yang Digunakan
- Bahan baku, bahan tambahan dan bahan penolong
d. Proses Pengolahan Produk
Pembelian, penerimaan, penyimpanan bahan yang digunakan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan produk jadi distribusi
e. Dokumen Sistem Jaminan Halal
Perusahaan pemegang sertifikat halal menyusun, menerapkan, dan memelihara sistem manajemen untuk menjaga kesinambungan proses produksi halal.
2. BPJPH, Memeriksa Kelengkapan Dokumen
3. BPJPH, Menentapkan Lembaga Pemeriksa Halal
4. LPH, Memeriksa dan Menguji Kehalalan Produk
5. MUI, Menetapkan Kehalalan Produk melalui Sidang Fatwa Halal
6. BPJPH, Menerbitkan Sertifikat Halal
Informasi terbaru mengenai cara mendapatkan sertifikasi halal Indonesia bisa kamu temukan di laman resmi BPJPH Kemenag. Selain itu, pelaku usaha perlu meluangkan waktu sekitar 21 hari untuk menyelesaikan seluruh proses sertifikasi tersebut.
Jadi jika stok kemasan produk dengan logo halal MUI sudah habis, tentu sebaiknya segeralah untuk mencetak kemasan baru dengan logo sertifikasi Halal Indonesia yang baru pula.
Menurut Kepala BPJPH, kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk kemudahan yang pemerintah berikan kepada pelaku usaha selama masa transisi sertifikasi halal, dari yang sebelumnya bersifat sukarela menjadi wajib.
Oleh karena itu, pemerintah tentu memahami kondisi di lapangan, mengingat banyak pelaku usaha telah memproduksi kemasan produk dengan label halal MUI. Oleh sebab itu, Kepala BPJPH mengimbau pelaku usaha untuk menggunakan kemasan produk yang sudah tersedia sesuai ketentuan saat memproduksi stok baru.
Mengapa Logo Halal Indonesia Penting untuk Kemasan Produk?

Sobat Flexy, penggunaan Logo Halal Indonesia wajib bagi pelaku usaha karena dapat membantu konsumen mengenali status sertifikasi halal pada produk. Selain itu, menandakan dan mendukung kepatuhan pelaku usaha terhadap ketentuan pelabelan. Bagi pelaku usaha makanan dan minuman, pastikan kamu mencantumkan label yang tepat sejak tahap awal pembuatan desain kemasan.
Sobat juga perlu memperbarui identitas produk dengan memilih standing pouch dari FlexyPack yang menghadirkan kemasan premium dengan perlindungan ganda. Kamu juga dapat menyesuaikan desain dengan identitas brand untuk kebutuhan label tanpa mengeluarkan biaya lebih. Selain itu, konsultasikan kebutuhan standing pouch custom bersama FlexyPack untuk mewujudkan kemasan yang menarik sekaligus fungsional!

Komentar
0